Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Postingan Populer

Minggu, 23 Oktober 2016

Upacara Potong Gigi Dalam Agama Hindu

Upacara Potong Gigi Dalam Agama Hindu



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Upacara Potong Gigi adalah upacara Agama Hindu yang tergolong Upacara Manusa Yadnya.Tujuan utama dari upacara Manusa Yadnya adalah untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan dari manusia Hindu itu sendiri.Upacara potong gigi merupakan upacara Manusa Yadnya yang semestinya dilakukan sebelum seseorang menempuh kehidupan Grahastha.
Didalam kehidupan agama Hindu telah muncul keinginan umatnya untuk meningkatkan cara-cara hidup beragama serta mendalami ajaran-ajaran agamanya dengan menggunakan pendekatan rasionalis dan filosofis guna menembus tabir dogmatisme, dengan menggunakan kajian sastra-agama yang terhimpun dalam berbagai pustaka rontal peninggalan leluhur. Dalam kontek ini betapa pentingnya bentuk-bentuk upacara dan upakara agama mendapat penelitian untuk dapat dipahami arti, fungsi dan kegunaannya, guna menambah mantapnya perasaan didalam melaksanakan upacara itu sendiri.
Khusus di dalam upacara potong gigi masih terdapat berbagai variasi, baik mengenai pengertiannya, upakaranya, maupun mengenai tatacaranya. Adanya variasi-variasi itu memang beralasan juga, karena agama Hindu bersifat Flexibel dan elastic dalam arti dapat dilaksanakan menurut desa-kala-patra dan dilandaskan pada catur-dresta serta dalam wujud nistha-madya- uttama, namun adanya suatu pedoman yang dapat dijadikan pegangan adalah sangat perlu, untuk menghindari terjadinya perbedaan-perbedaan yang mendasar. Inilah suatu masalah yang dihadapi oleh Umat Hindu di Indonesia dewasa ini.

            Penulisan buku yang saya buat karya tulisnya ini bertujuan untuk memberikan jawaban atas masalah yang ada dalam pelaksanaan upacara potong gigi yang bervariasi itu dan sekaligus bermaksud dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan upacara potong gigi bagi umat Hindu baik di Bali maupun diluar Bali dengan menekankan pada prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Prinsip-prinsip itu diangkat dari sumber-sumber sastra-agama, sehingga dengan demikian akan dapat menjauhkan penafsiran-penafsiran tanpa landasan sastra. sungguh amat berdosa apabila memberikan interpretasi yang tidak berlandaskan sastra-agama, karena hal yang demikian itu dapat mengaburkan pengertian yang sebenarnya.
            Buku kecil ini tidaklah dapat mengungkapkan upacara potong gigi secara keseluruhan, melainkan hanya menampilkan pokok-pokoknya saja. Materi yang disajikan dalam buku ini didasarkan pada berbagai sastra-agama terutama yang terdapat dalam beberapa pustaka-rontal di Bali serta dikaji sedemikian rupa dengan menggunakan pendekatan filosofis. Disamping itu adanya berbagai faktor seperti kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, social budaya dan ekonomi juga merupakan indicator-indikator dalam penyusunan buku yang saya buat karya tulisnya ini.Singkatnya saya memilih buku ini karena ingin mengetahui tentang upacara potong gigi karena saya belum melaksanakannya.  



 BAB II
PEMBAHASAN

2.1 UPACARA AGAMA
            Upacara merupakan lapisan paling luar dari agama. Upacara merupakan suatu realisasi agama atau aktivitas –aktivitas agama. Secara etimologi kata upacara berasal dari kata sansekerta upa dan cara. Upa berarti sekeliling atau menunjuk segala dan Cara berarti gerak atau aktivitas. Upacara berarti gerakan sekeliling kehidupan manusia atau aktivitas –aktivitas manusia dalam upayanya menghubungkan diri dengan Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa.
            Kegunaan upacara dalam agama, selain untuk mewujudkan agama dalam kehidupan , namun juga untuk memantapkan perasaan batin dalam memuja Hyang widhi.
            Upacara juga berarti yajna. Yajna adalah kata dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata yaj yang artinya sembahyang. Dari akar kata yaj ini menjadi kata yajna yang berarti persembahan. Yajna tidaklah tepat kalau diartikan sebagai korban. Yajna mempunyai dua arah yaitu arah naik dan arah turun, Yajna yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi atau dalam wujud Dewa/ Bhatara arahnya naik disebut persembahan (offering). Yajna yang  ditujukan kepada Bhuta dan Kala arahnya turun, karena manusia tidak menyembah Bhuta dan Kala, melainkan patut disebut korban suci (secrifice)

            Yajna dapat dilaksanakan dengam lima cara yaitu:
1)      Drwya-yajna
Drwya artinya materi atau benda. Drwya-yajna berarti melakukan pemujaan atau beryajna terhadap Hyang Widhi dengan menggunakan sarana  materi atau benda.
2)      Tapa-yajna
Tapa-yajna adalah memuja Hyang Widhi dengan jalan melakukan tapa. Tapa mengandung arti melatih diri dengan mempersatukan tujuan untuk mencapai cita-cita tertinggi yakni : bersatunya kembali Atman dengan Brahman, mengatasi gelombang hidup yang bercorak suka-duka dengan menjauhkan diri dari segala macam godaan serta menekan hal-hal yang bersifat negative.
3)      Yoga-yajna
Kata yoga berasal dari akar kata yug yang artinya berhubungan atau bersatu. Yoga artinya cara atau jalan untuk berhubungan atau bersatu dengan Hyang Widhi. Yoga-yajna adalah suatu persembahan atau kebaktian dengan cara melaksanakan yoga yaitu memusatkan pikiran dalam keadaan samadi tertuju kepada Hyang Widhi. Yoga-yajna dapat dilaksanakan empat cara, sehingga munculah istilah Karma-yoga, Bhakti-yoga, Raja-yoga, dan Jnana-yoga. Orang yang mengutamakan Yoga-yajna untuk berhubungan dengan Hyang Widhi, disebut Yogi.
4)      Swadhyaya-yajna
Swadhyaya artinya usaha sendiri, kemampuan sendiri dan juga berarti pengorbanan diri. Swadhyaya-yajna adalah suatu persembahan atau kebaktian kepada Hyang Widhi dengan jalan mengorbankan kepentingan-kepentingan lain untuk mempelajari kitab-kitab suci, mendidik diri sendiri kearah kesucian serta melaksanakan persembahyangan setiap hari.
5)      Jnana-yajna
Jnana-yajna adalah suatu persembahan kepada Hyang Widhi dengan cara mengamalkan pengetahuan keagamaan dan juga pengetahuan lainnya kepada sesame makhluk. Tujuannya untuk membimbing sesama manusia agar mencapai kesadaran tinggi dalam berbakti dan memuja Hyang Widhi sebagai landasan untuk menghubungkan diri dengan beliau.

            Ditinjau dari sasaran yang dituju, maka yajna dapat digolongkan menjadi lima jenis yang disebut Panca-yajna yaitu: Dewa-yajna, Pitra-yajna, Manusa-yajna, dan Bhuta-yajna. Panca-yajna ini mempunyai dua sisi yaitu sisi kerohanian dan sisi keduniawian, karena agama Hindu mendasarkan konsepsinya pada wahya dan adhyatmika (konkrit dan abstrak )

1.      Dewa-yajna
Dewa-yajna adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada Hyang Widhi sebagai pernyataan terimakasih atas anugrahNya memberikan kehidupan kepada manusia
2.      Pitra-yajna
Pitra-yajna adalah persembahan kepada leluhur sebagai pernyataan terimakasih atas jasa-jasanya melahirkan, membesarkan, dan memelihara kehidupan di dunia ini, sehingga menjadi orang yang hidup mandiri
3.      Rsi-yajna
Rsi-yajna mengandung dua sisi yaitu pertama adalah meningkatkan penyucian diri dengan upacara keagamaan seperti: mawinten dan atau madhiksa. Sisi yang kedua adalah ber-yajna kepada para Rsi atau Sulinggih baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk tenaga, atas jasa-jasanya dalam hubungan melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing umat dalam kehidupan beragama dan sebagai orang yang berfungsi menyelesaikan suatu upacara agama.
4.      Manusa-yajna
Upacara ini mengandung arti suatu persembahan kepada Hyang Widhi sebagai pernyataan rasa terimakasih atas anugrah-Nya member kelengkapan hidup dan perlengkapan hidup kepada manusia. Dalam sisi lain, Manusa-yajna juga mencakup pengertian bahwa ber-yajna kepada sesama manusia dalam bentuk tolong-menolong, memberikan bantuan dan lain sebagainya.
5.      Bhuta-yajna
Bhuta-yajna adalah kurban suci kepada Bhuta dan Kala yaitu suatu kekuatan negatip yang timbul sebagai akibat terjadinya hubungan yang tidak harmonis antara bhuwana-agung ( makrokosmos ) dengan bhuwana alit ( mikrokosmos). Dalam Bhuta-yajna ini tercakup pula pengertian berkorban untuk memelihara alam, tumbuh-tumbuhan dan binatang atau melestarikan lingkungan hidup.

            Yajna dapat diselenggarakan setiap hari yang disebut Nitya-yajna dan dapat pula dilakukan secara berkala atau juga incidental yang disebut Naimitika-yajna. Contoh dari Nitya-yajna itu adalah yajna kecil yang dilakukan setiap hari setelah selesai memasak di dapur sebelum memulai makan, sedangkan contoh daripada Naimitika-yajna adalah yajna-yajna yang tergolong dalam keelompok Panca-yajna.

2.1.1 Sarana Upacara
            Sarana upacara adalah upakara. Di Bali upakara dipopulerkan dengan istilah banten, sedangkan di India, upakara disebut wedhya.
Kata upakara terdiri dari dua kata yaitu : upa artinya sekeliling atau segala sesuatu yang berhubungan dengan, dan kara artinya tangan. Upakara artinya segala sesuatu yang dibuat oleh tangan atau sesuatu sarana persembahan yang berasal dari hasil jerih payah bekerja.

            Banten artinya wali. Maka dari itu upakara Dewa-yajna sering juga disebut pujawali. Kata wali mengandung tiga pengertian yaitu: wali berarti wakil, wali berarti kembali, dan wali berarti bali (Bali). Wali yang berarti wakil mengandung pengertian simbolis filosofis , bahwa banten itu merupakan wakil daripada isi alam semesta yang diciptakan oleh Hyang Widhi. Wali yang berarti kembali , mengandung makna, bahwa segala yang ada atau isi alam semesta yang diciptakan oleh Hyang Widhi, dipersembahkan kembali oleh manusia kepada Hyang Widhi sebagai pernyataan rasa terimakasih kepada Beliau. Seandainya Hyang Widhi tidak menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini, maka adakah suatu realitas yang dijumpai manusia..? Wali yang berarti bali (Bali ) adalah sesuai dengan hukum perubahan bunyi p=b=w.

            Banten banyak jenisnya dan banyak pula bentuknya serta bermacam-macam bahannya. Meskipun bahan banten terdiri dari bermacam-macam , namun pada prinsipnya bahan banten itu terdiri dari tiga unsure yaitu :
1)      Mataya, adalah bahan banten yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti : daun, bunga, buah dan sebagainya.
2)      Maharya, adalah bahan banten yang berasal dari binatang-binatang tertentu seperti : babi, kambing, kerbau, sapi dan sebagainya.
3)      Mantiga, adalah bahan banten yang berasal dari binatang yang lahir dari telur dan juga telur itu sendiri, seperti  : ayam, itik, angsa, telur ayam, telur-itik , telur angsa dan sebagainya.
Didalam upacara, banten dilengkapi dengan air dan api (dupa )

Didalam upacara dan upakara agama Hindu, sifat luwes dan elastis itu selain berlandaskan desa, kala, dan patra, namun juga dapat dilaksanakan menurut nistha, madhaya, uttama. Nistha berarti yang prinsip didalam upacara dan upakara itu yang tidak boleh tidak harus ada. Madhaya adalah pengembangan dari yang prinsip itu sehingga menjadi lebih besar daripada nistha. Uttama pengembangan dan penambahan dari Madhya sehingga keadaannya menjadi lebih besar lagi daripada madhaya.
            Ada tiga hal yang harus seimbang di dalam melakukan upacara atau yajna yaitu : upacara, upakara, dan mantra atau stawa yang digunakan oleh Sulinggih didalam memimpin  upacara itu. Apabila ketiganya ketiganya ini ini tidak seimbang, maka akan terjadilah ketimpangan dalam pelaksanaan upacara agama. Selain itu patut terciptakan kemanunggalan trimanggala-ning yajna yaitu sang yajamana( orang yang beryajna ), tukang banten dan sulinggih yang muput upacara itu.
Seni budaya merupakan penunjang sarana upacara. Dengan adanya seni-budaya menunjang upacara dan upakara, maka itulah banten di Bali semarak dan unik yang meriahkan pelaksanaan agama.

2.2 HAKEKAT UPACARA POTONGGIGI
Di dalam pustaka ronyal Dharma Kahuripan, Ekapratama, dan rontal Puja Kalapati, upacara potonggiggi disebut atatah. Sampai kini ada tiga istilah potonggigi yaitu : metatah, mepandes, dan mesangih. Istilah metatah sebagaimana disebutkan dalam pustaka rontal tersebut tadi, berasal dari kata tatah yang berarti pahat. Mengenai istilah mesangih, kata mesangih adalah bahasa bali, sedangkan bahasa Bali halusnya adalah mepandes. Maka dari itulah ada tiga istilah mengenai upacara upacara potong gigi di Bali.

            Upacara potong gigi merupakan salah satu bagian dari upacara Manusa-yajna yang patut dilaksanakan oleh setiap umat hindu. Upacara ini mengandung pengertian yang dalam bagi kehidupan umat hindu yaitu :
1)      Pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang telah dapat mengendalikan diri dari godaan pengaruh Sadripu.
2)      Memenuhi kewajiban orang tuanya terhadap anaknya untuk menemukan hakekat manusia yang sejati.
3)      Untuk dapat bertemu kembali ke;lak di Sorga antara anak dengan orang tuanya setelah sama-sama meninggal dunia.
Selain itu rontal Atmaprasangsa menyebutkan, bahwa apabila tidak melakukan upacara potong gigi, maka rihnya akan mendapat hukuman dari Bhatara Yamadhipati di alam neraka ( Kawah Candragomuka) yaitu menggigit pangkal bambu- petung . Terlaksananya upacara ini merupakan kewajiban orang tua terhadap anaknya untuk menjadikan anaknya manusia yang sejati yang disebut dharmaning rama-rena ring putra. Guna membalas jasa orang tuanya maka anaknya berkewajiban melaksanakan upacara Pitra-Yajna kepada orang tuanya serta leluhurnya sesuai dengan ketentuan dharmaning putra ring rama-rena serta bersujud bakti terhadap orang tuanya sesuai dengan ajaran putra-sasana. Anak yang demikian itulah disebut suputra artinya anak yang baik seperti yang dibentangkan di dalam kekawin Nitisastra.

2.2.1 Landasan
            Adapun beberapa pustaka rontal yang memuat tentang atau ada hubungannya dengan upacara potong gigi antar lain adalah :
1)      Dharma Kahuripan, Ada pendapat bahwa rontal ini ditulis oleh Empu Kuturan pada permulaan abad 11. Didalam rontal ini dibentangkan mengenai upacara potong gigi yang disebut atatah.
2)      Ekapratama, Dikalangan masyarakat luas ada anggapan, bahwa rontal ini ditulis oleh Dang Hyang Dwijwndra menjelang beliau moksah di Uluwatu akhir abad 16. Didalam rontal ini disebutkan  mengenai upacara potong gigi yang juga disebut atatah.
3)      Puja Kalapati, rontal ini ditulis sesudah Dang Hyang Dwijwndra, barangkali oleh keturunan beliau. Di dalam rontal Puja Kalapati inilah dibentangkan asal mula orang melaksanakan upacara potonggigi sebagai petunjuk dari Dewa Siwa kepada manusia agar menemukan hakekat manusia sejati.
4)      Puja Kalib, Rontal ini memuat tentang puja dan sthawa serta mantra yang digunakan oleh pedanda dalam memimpin upacara potong gigi.
5)      Atmaprasangsa, Disinilah disebutkan, apabila orang tidak melakukan upacara potong gigi, maka rohnya diberi hukuman di alam neraka yaitu menggigit pangkal bamboo petung
6)      Janmaphalawerti, Rontal ini membentangkan mengenai upacara dalam melaksanakan upacara potong gigi, disebutkan pula mengenai ketentuan upacaranya untuk tingkat nistha, madhya dan uttama.
7)      Tattwa Japakala, Rontal ini menceritakan tentang Bhatara Guru ( Siwa ) memotong taring Bhatara Kala sarana Bhatara Guru melebur sifat-sifat kala pada diri Bhatara Kala dan dengan demikian Bhatara Kala tekah menemukan Hakekeat dirinya yang sejati dan mengetahui ibu bapanya.

2.2.2 Tujuan
            Tujuan daripada upacara potong gigi yang dilakukan oleh umat Hindu dalam rontal Puja Kalapati dan juga pustaka rontal Atmaprasangsa, maka upacara potong gigi mencakup empat aspek tujuan
yaitu :
1)      Menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, pisaca, dan raksasa dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sadripu, sehingga dapat menemukan hakekat manusia yang sejati.
2)      Untuk dapat bertemu kembali di Sorga dengan arwah Bapak dan Ibu yang telah berwujud suci.
3)      Untuk menghindari hukuman di alam neraka nanti yang dijatuhkan oleh Bhatara Yamadhipati berupa menggigit pangkal bambu petung.
4)      untuk memenuhi kewajiban orang tuanya kepada anaknya guna menemukan hakekat manusia  sejati.



2.3 TATA UPACARA POTONGGIGI
Menurut rontal Dharma Kahuripan, upacara potong gigi dilaksanakan sesudah melakukan pujakalip. Upacara pujakalip adalah upacara yang dilakukan bagi mereka yang baru meningkat dewasa baik bagi wanita maupun bagi peria.
Dalam kenyataan di kalangan umat Hindu ada juga melakukan upacara potong gigi bersamaan dalam atau dalam rangkaian upacara wiwaha. Hal itu dilakukan apabila ketika meningkat dewasanya belum sempat dilanjutkan dengan upacara potong gigi dan mereka cepat-cepat saja melakukan perkawinan. Faktor lain yang mendorong hal yang demikian adalah efisiensi pembiayaan, sehingga dua tingkatan upacara Manusa-yajna dirangkaikan menjadi satu. upacara potong gigi dapat pula dilakukan dalam rangkaian upacara Pitra- yajna yang disebut upacara mamukur.

Apabila semasih hidupnya belum sempat melaksanakan upacara potong gigi, maka upacara ini dapat pula dilakukan secara simbolik pada waktu matinya dengan suatu ketentuan khusus. Sebagian besar umat Hindu di Bali melakukan upacara potong gigi bagi mereka yang telah meninggal yang semasih hidupnya belum melakukannya, karena didasarkan atas tiga faktor yaitu :
1.      Orang tuanya masih merasa berhutang kewajiban terhadap anaknya yang belum sempat dibayarnya semasih anaknya hidup.
2.      Mengharapkan agar roh anaknya dapat bertemu kembali dengan roh orang tuanya di Sorga di kemudian hari.
3.      Menghindari roh mereka yang meninggal itu mendapat hukuman menggigit pangkal bamboo petung di alam neraka nanti yang diberikan ole Bhatara Yamadhipati.

2.3.1 Tahapan Upacara

            Berdasarkan ketentuan dalam pustaka rontal Dharma Kahuripan dan pustaka rontal Puja Kalapati, bahwa tahapan upacara potong gigi adalah sebagai berikut :
1)      Magumipadangan. Upacara ini juga disebut mesakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.
2)      Ngekeb. Upacara ini dilakukan di meten atau di gedong.
3)      Mabyakala. Ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
4)      Ke merajan atau tempat suci di dalam rumah.
Urutan-urutan upacara di merajan adalah :
a)      Mohon panugrahan kepada Bhatara Hyang Guru.
b)      Menyembah ibu dan bapak.
c)      Ngayap caru ayam putih.
d)     Mohon tirtha(air suci ) kepada Bhatara Hyang Guru.
e)      Ngajarah gigi ( menulis gigi dengan wijaksara )
f)       Dipahat taringnya tigakali secara simbolik
5)      Menuju ke tempat potong gigi. Disini urutan-urutan upacaranya adalah :
a)      Sembahyang kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Semura dengan Bhatari Ratih.
b)      Mohon tirtha kepada Bhatara Semara dan Bhatari Ratih.
c)      Ngayap banten pengawak ( bale gading )
d)     Metatah atau memotong/ mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas.
e)      Turun dari tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkep.
6)      Kembali ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian, sekarang bisa dilakukan.
7)      Mejaya-jaya di merajan. Disini urutan-urutan upacaranya adalah :
a)      Mabyakala
b)      Sembahyang kepada : Bhatara Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya (Bhatara yang lainnya)
c)      Menuju ke hadapan Sang Muput Upacara, disini dilakukan meeteh- eteh pebersihan :
ÿ       Maprayascita
ÿ       Pangrabodan
ÿ       Ngayap pungun-pungun dan pajajiwan
ÿ       Matirtha pengelukatan, pabersihan dan kakuluh
ÿ       Majaya-jaya
ÿ       Ngayap banten oton
ÿ       Ngayap banten pawinten dibunga
ÿ       Mapadamel
d)     Kembali ke meten/ gedong tempat ngekep.
8)      Mapinton ke Pura Kahyangan Tiga, ke Pura kawitan dank e Pura lainnya yang menjadi pujaannya.

Catatan:
Berata untuk Sang Mepandes :
ü  Selama tiga hari dari sejak potong gigi tidak boleh makan daging babi, tidak boleh memakan makanan yang panas dank eras.
ü  Banten Caru ayam putih di merajan untuk Sang Catur Sanak.
ü  Banten Paningkeb untuk Ibu Pertiwi dan juga untuk Sang Catur Sanak.
ü  Banten dibawah tempat tidur dibalai pengekeban untuk Sang Butha Ari-ari.


2.4 SIMBOLISASI DAN MAKNA

            Agama Hindu mengakui pentingnya symbol-simbol dalam usaha manusia menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi dan symbol-simbol itu sendiri penting pula artinya bagi ajaran psikosmos. Ajaran psikosmos adalah ajaran yang dijelaskan berdasarkan symbol-simbol alam kejiwaan dan alam dunia fana ini serta hubungannya dengan alam gaib.
            Hyang Widhi adalah Tuhan Yang Maha Esa. Beliau tidak mempunyai wujud tertentu dan Beliau ada dimana-mana, meresapi dan melingkupi alam semesta ini yang disebut dengan istilah wyapi-wyapaka.  Penggambaran Hyang Widhi secara emperis atau alamiah adalah untuk kepentingan manusia dalam hubungan pemujaan-Nya, sehingga menyebabkan timbulnya penggambaran Hyang Widhi sebagai Mahapurusa seperti yang terdapat didalam Wedha.
Disamping personifikasi Hyang Widhi, juga digambarkan secara simbolis dimana simbolisasi Hyang Widhi dapat bermacam-macam pula bentuknya menurut tanggapan rohani manusia dan penggambaran seperti itu merupakan sumber dari inspirasi dari para seniman yang ingin hendak menggambarkan Hyang Widhi dalam seni dan imajinasi manusia.
Dengan demikian maka banyaklah symbol-simbol yang dijumpai di dalam agama Hindu. Namun demikian symbol-simbol itu tidak lebih artinya daripada penggambaran sifat-sifat Hyang Widhi yang dituangkan kedalam seni, baik seni rupa, seni sastra maupun seni bahasa.


2.4.1 Simbolisasi dalam bagian-bagian banten

            Bentuk-bentuk banten adalah perwujudan daripada simbolik-simbolik tertentu yang dikaitkan dengan seni dan tata warna. Alas banten adalah berbentuk segitiga, segi empat dan bundar. Alas banten berbentuk segitiga di Bali disebbut tangkih adalah simbolik tri kona  yaitu : utpati, sthiti, dan pralina yang melambangka : lahir-hidup-mati. Alas banten berbentuk segi empat yang di Bali disebut aled dan ada juga yang disebut ceper adalah simbolik daripada catur marga yaitu : bhakti-marga, karma- marga, jnana-marga dan yoga-marga. Catur Marga itu adalah empat jalan untuk mencapai kesempurnaan dalam upaya menghubungkan diri dengan Hyang Widhi. Alas banten berbentuk bundar yang di Bali disebut tamasadalah lambing windhu atau kosmos.

            Didalam upacara agama digunakan bermacam-macam warna, baik yang dipakai dalam jajan banten, maupun pada hiasan-hiasannya. Warna-warni itu juga mengandung arti simbolik yaitu:
·         Putih lambang Dewa Iswara yang menjaga penjuru  di dunia timur.
·         Merah lambang Dewa Brahma yang menjaga penjuru di dunia selatan.
·         Kuning lambang Dewa Mahadewa yang menjaga penjuru di dunia barat.
·         Hitam lambang Dewa Wisnu  yang menjaga penjuru di dunia utara.
·         Berumbun adalah lambang Dewa Siwa yang menjaga penjuru dunia tengah.

Bentuk-bentuk jajan banten dan jejahitan tertentu ada yang mengandung perlambangan atribut atau laksana daripada Dewa Nawadhipakala seperti : wajra, dupa, dandha, moksala, pasa, angkusa, cakra, trisula dan padma. Penggunaan rarajahan atau lukisan magis dan huruf suci wijaksana seperti Omkara dan sebagainya, juga terdapat dalam banten tertentu. Rarajahan dan Wijaksara itu adalah lambing-lambang yang mengandung arti gaib.

2.4.2 Kasuksman atau filosofi

            Agama Hindu adalah agama yang filosofis. Didalam konsep Hindu, Wedhalah yang menjadi objek renungan filsafat. Dengan demikian maka agama dan filsafat menyatu didalam konsep Hindu.
Apabila dikaji secara saksama, maka akan dijumpai bahwa Wedha berisi dua hal penting yaitu :
Jnanakandha dan Karmakandha. Dari Jnanakandha munculah Upanisad yang merupakan sari-sari daripada Wedha. Dari Upanisad berkembang menjadi Tattwa dan dari Tattwa berkembang menjadi Tutur-tutur Adhyatmika yang banyak terdapat di Bali. Dari Karmakandha muncullah Dharmasastra dan Yajna. Dharmasastra membentangkan tentang Tatasusila dan Hukum Agama Hindu. Dari Karmakandha ini juga berkembang menjadi pustaka-pustaka yang membentangkan Yajna atau upacara-upacara agama Hindu seperti : Catur Wedhya, Sundharigama, Purwayamatattwa, Putru Saji, Empu Lutuk, Indik Ligya, Dharmakahuripan, Ekapratama dan lain-lainnya.
            Didalam upacara potong gigi juga terdapat kasuksman. Berdasarkan keterangan didalam pustaka Puja Kalapati, bahwa kasuksman upacara potong gigi adalah untuk menemukan hakekat manusia yang sejati. Mereka yang telah menemukan hakekat manusia sejati adalah mereka yang mengetahui falsafah hidup ini. Ada tiga hal penting yang patut direnungkan yaitu:

1.      Apa arti hidup ini ?
2.      Untuk apa hidup ini?
3.      Apa tujuan hidup ini ?

Bagi agamawan, arti daripada hidup ini adalah manusia mendapat kesempatan berbuat baik yang disebut subhakarma untuk menebus karmawasana yaitu sisa pahala perbuatan negative atau asubhakarma yang tidak sempat dinikmati semasih hidupnya dahulu.
            Mengenai jawaban pertanyaan “ untuk apa hidup ini? “ adalah analog dengan penjelasan tadi. Hidup ini harus digunakan untuk berbuat baik. oleh karena itu pergunakanlah hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk menebus karmawasana negative yang masih melekati diri, sehingga bisa bebas daripada samsara yang diakibatkan oleh pengaruh duniawi
            Mengenai jawaban atas pertanyaan “apa tujuan hidup ini?“. Masalah ini sesungguhnya masih teka-teki dalam kehidupan ini. hidup ini adalah menderita. Selama atma berada dalam lingkaran punarbhawa, selama itu atma mengalami penderitaan. Deretan lahir hidup mati yang berulang-ulang itu disebut samsara. Tujuan daripada hidup ini adalah untuk tidak hidup lagi dalam arti terlepasnya atma dari lingkaran punarbhawa yang penuh penderitaan. Atma yang telah terlepas dari lingkaran punarbhawa disebut moksah. Moksah artinya lenyapnya penderitaan. Di dalam pustaka kamoksan, moksah itu disebut mulih ing sangkan paran yang artinya pulang ke asalnya.
            Apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah ? Pertanyaan ini sudah sejak lama menjadi pergunjingan para ahli pikir. Kebenaran adalah hakekat daripada pengetahuan. pengetahuan yang dikenal manusia ada empat macam yaitu :
o   Kebenaran indria adalah kebenaran yang diperoleh dari pengalaman panca-indria melalui proses pemikiran yang langsung menjadi pengetahuan.
o   Kebenaran Ilmu adalah kebenaran yang diperoleh dari hasil berpikir sistematik dan radikal disertai penelitian dan eksperimen.
o   Kebenaran filsafat adalah kebenaran yang diperoleh dari hasil pemikiran secara sistematik, radikal, dan universal .
o   Kebenaran Agama adalah kebenaran yang diperoleh dari hasil pengetahuan yang diwahyukan oleh Tuhan (Hyang Widhi ). Didalam pengetahuan Tuhan terdat ulasan, keterangan, tafsiran dan rincian yang berasal dari pengetahuan manusia .
Diantara keempat kebenaran itu, maka kebenaran agama adalah kebenaran yang bersifat hakiki, karena bersumber pada Tuhan dan bukan pada manusia. Maka dari itu apa yang disebut benar adalah sesuatu yang dibenarkan oleh agama dan apa yang disebut salah adalah sesuatu yang disalahkan oleh agama.

 BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN
             
Ber-yajna adalah melakukan hal yang benar karena upacara diwajibkan di dalam Agama Hindu. Maka dari itu melakukan upacara potong gigi adalah suatu perbuatan benar yang patut dilakukan menurut ajaran agama Hindu, karena mengandung kasuksmaan mengatasi Sadripu, Rajah, danTamah dalam upaya mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan guna menemukan hakekat manusia yang sejati. Didalam pustaka rontal Puja Kalapati ditegaskan, bahwa hanya manusia yang sejati akan dapat bertemu kembali dengan Bapak dan Ibunya ( baca : Dewa Siwa dan Dewi Uma ) kelak di sorga.

3.2 SARAN

Upacara potong gigi bila dilaksanakan sesuai dengan maknanya sesungguhnya sangat sederhana.Dalam ajaran Hindu, khususnya dalam pelaksanaan upacara Yadnya dikenal adanya : Kanista, Madya dan Utama yang dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kanista berarti yang inti atau yang pokok dan bukan berarti hina, sebab dalam Yadnya landasannya adalah ketulusan dan kesucian hati nurani. Bila dilandasi ketulusan hati walaupun kecil upacara yang kita persembahkan niscaya besar pahala yang akan diterima. Sebaliknya yang besar bila tidak dilandasi hati yang suci akan sia-sia belaka.







 

Blogger news

Blogroll

Powered By Blogger

Kanna Boon - Silhouette

About