Upacara Potong Gigi Dalam Agama Hindu
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Upacara Potong Gigi adalah upacara Agama Hindu yang
tergolong Upacara Manusa Yadnya.Tujuan utama dari upacara Manusa Yadnya adalah
untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan dari manusia Hindu itu sendiri.Upacara
potong gigi merupakan upacara Manusa Yadnya yang semestinya dilakukan sebelum
seseorang menempuh kehidupan Grahastha.
Didalam kehidupan agama Hindu telah muncul keinginan
umatnya untuk meningkatkan cara-cara hidup beragama serta mendalami
ajaran-ajaran agamanya dengan menggunakan pendekatan rasionalis dan filosofis
guna menembus tabir dogmatisme, dengan menggunakan kajian sastra-agama yang
terhimpun dalam berbagai pustaka rontal peninggalan leluhur. Dalam kontek ini
betapa pentingnya bentuk-bentuk upacara dan upakara agama mendapat penelitian
untuk dapat dipahami arti, fungsi dan kegunaannya, guna menambah mantapnya
perasaan didalam melaksanakan upacara itu sendiri.
Khusus di dalam upacara potong gigi masih terdapat
berbagai variasi, baik mengenai pengertiannya, upakaranya, maupun mengenai
tatacaranya. Adanya variasi-variasi itu memang beralasan juga, karena agama
Hindu bersifat Flexibel dan elastic dalam arti dapat dilaksanakan menurut desa-kala-patra dan dilandaskan pada catur-dresta serta dalam wujud nistha-madya- uttama, namun adanya
suatu pedoman yang dapat dijadikan pegangan adalah sangat perlu, untuk
menghindari terjadinya perbedaan-perbedaan yang mendasar. Inilah suatu masalah
yang dihadapi oleh Umat Hindu di Indonesia dewasa ini.
Penulisan buku yang saya buat karya
tulisnya ini bertujuan untuk memberikan jawaban atas masalah yang ada dalam
pelaksanaan upacara potong gigi yang bervariasi itu dan sekaligus bermaksud
dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan upacara potong gigi bagi umat Hindu
baik di Bali maupun diluar Bali dengan menekankan pada prinsip-prinsip yang
terkandung di dalamnya. Prinsip-prinsip itu diangkat dari sumber-sumber
sastra-agama, sehingga dengan demikian akan dapat menjauhkan
penafsiran-penafsiran tanpa landasan sastra. sungguh amat berdosa apabila
memberikan interpretasi yang tidak berlandaskan sastra-agama, karena hal yang
demikian itu dapat mengaburkan pengertian yang sebenarnya.
Buku kecil ini tidaklah dapat
mengungkapkan upacara potong gigi secara keseluruhan, melainkan hanya
menampilkan pokok-pokoknya saja. Materi yang disajikan dalam buku ini
didasarkan pada berbagai sastra-agama terutama yang terdapat dalam beberapa
pustaka-rontal di Bali serta dikaji sedemikian rupa dengan menggunakan
pendekatan filosofis. Disamping itu adanya berbagai faktor seperti kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, social budaya dan ekonomi juga merupakan
indicator-indikator dalam penyusunan buku yang saya buat karya tulisnya ini.Singkatnya
saya memilih buku ini karena ingin mengetahui tentang upacara potong gigi
karena saya belum melaksanakannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 UPACARA AGAMA
Upacara merupakan lapisan paling
luar dari agama. Upacara merupakan
suatu realisasi agama atau aktivitas –aktivitas agama. Secara etimologi kata upacara berasal dari kata sansekerta upa dan cara. Upa berarti
sekeliling atau menunjuk segala dan Cara
berarti gerak atau aktivitas. Upacara
berarti gerakan sekeliling kehidupan manusia atau aktivitas –aktivitas manusia
dalam upayanya menghubungkan diri dengan Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa.
Kegunaan
upacara dalam agama, selain untuk mewujudkan agama dalam kehidupan , namun
juga untuk memantapkan perasaan batin dalam memuja Hyang widhi.
Upacara
juga berarti yajna. Yajna adalah
kata dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata yaj yang artinya sembahyang.
Dari akar kata yaj ini menjadi kata
yajna yang berarti persembahan. Yajna tidaklah tepat kalau diartikan sebagai
korban. Yajna mempunyai dua arah yaitu arah naik dan arah turun, Yajna yang dipersembahkan kepada Sang
Hyang Widhi atau dalam wujud Dewa/ Bhatara arahnya naik disebut persembahan
(offering). Yajna yang ditujukan kepada
Bhuta dan Kala arahnya turun, karena manusia tidak menyembah Bhuta dan Kala,
melainkan patut disebut korban suci (secrifice)
Yajna dapat dilaksanakan dengam lima
cara yaitu:
1)
Drwya-yajna
Drwya artinya materi atau benda. Drwya-yajna berarti melakukan pemujaan atau beryajna terhadap Hyang
Widhi dengan menggunakan sarana materi
atau benda.
2)
Tapa-yajna
Tapa-yajna adalah memuja Hyang Widhi dengan jalan melakukan
tapa. Tapa mengandung arti melatih
diri dengan mempersatukan tujuan untuk mencapai cita-cita tertinggi yakni :
bersatunya kembali Atman dengan Brahman, mengatasi gelombang hidup yang
bercorak suka-duka dengan menjauhkan diri dari segala macam godaan serta
menekan hal-hal yang bersifat negative.
3)
Yoga-yajna
Kata
yoga berasal dari akar kata yug yang
artinya berhubungan atau bersatu.
Yoga artinya cara atau jalan untuk berhubungan atau bersatu dengan Hyang Widhi. Yoga-yajna adalah suatu persembahan
atau kebaktian dengan cara melaksanakan yoga yaitu memusatkan pikiran dalam
keadaan samadi tertuju kepada Hyang Widhi. Yoga-yajna dapat dilaksanakan empat
cara, sehingga munculah istilah Karma-yoga, Bhakti-yoga, Raja-yoga, dan
Jnana-yoga. Orang yang mengutamakan Yoga-yajna untuk berhubungan dengan Hyang
Widhi, disebut Yogi.
4)
Swadhyaya-yajna
Swadhyaya artinya usaha sendiri, kemampuan sendiri dan juga
berarti pengorbanan diri.
Swadhyaya-yajna adalah suatu persembahan atau kebaktian kepada Hyang Widhi
dengan jalan mengorbankan kepentingan-kepentingan lain untuk mempelajari
kitab-kitab suci, mendidik diri sendiri kearah kesucian serta melaksanakan
persembahyangan setiap hari.
5)
Jnana-yajna
Jnana-yajna adalah suatu persembahan kepada Hyang Widhi dengan
cara mengamalkan pengetahuan keagamaan dan juga pengetahuan lainnya kepada
sesame makhluk. Tujuannya untuk membimbing sesama manusia agar mencapai
kesadaran tinggi dalam berbakti dan memuja Hyang Widhi sebagai landasan untuk
menghubungkan diri dengan beliau.
Ditinjau dari sasaran yang dituju,
maka yajna dapat digolongkan menjadi lima jenis yang disebut Panca-yajna yaitu: Dewa-yajna, Pitra-yajna, Manusa-yajna, dan Bhuta-yajna. Panca-yajna
ini mempunyai dua sisi yaitu sisi kerohanian dan sisi keduniawian, karena agama
Hindu mendasarkan konsepsinya pada wahya
dan adhyatmika (konkrit dan abstrak )
1.
Dewa-yajna
Dewa-yajna adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada Hyang
Widhi sebagai pernyataan terimakasih atas anugrahNya memberikan kehidupan
kepada manusia
2.
Pitra-yajna
Pitra-yajna adalah persembahan kepada leluhur sebagai
pernyataan terimakasih atas jasa-jasanya melahirkan, membesarkan, dan
memelihara kehidupan di dunia ini, sehingga menjadi orang yang hidup mandiri
3.
Rsi-yajna
Rsi-yajna mengandung dua sisi yaitu pertama adalah
meningkatkan penyucian diri dengan upacara keagamaan seperti: mawinten dan atau madhiksa. Sisi yang kedua adalah ber-yajna kepada para Rsi atau
Sulinggih baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk tenaga, atas
jasa-jasanya dalam hubungan melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing umat dalam
kehidupan beragama dan sebagai orang yang berfungsi menyelesaikan suatu upacara
agama.
4.
Manusa-yajna
Upacara
ini mengandung arti suatu persembahan kepada Hyang Widhi sebagai pernyataan
rasa terimakasih atas anugrah-Nya member kelengkapan hidup dan perlengkapan
hidup kepada manusia. Dalam sisi lain, Manusa-yajna
juga mencakup pengertian bahwa ber-yajna kepada sesama manusia dalam bentuk
tolong-menolong, memberikan bantuan dan lain sebagainya.
5.
Bhuta-yajna
Bhuta-yajna adalah kurban suci kepada Bhuta dan Kala yaitu
suatu kekuatan negatip yang timbul sebagai akibat terjadinya hubungan yang
tidak harmonis antara bhuwana-agung
( makrokosmos ) dengan bhuwana alit
( mikrokosmos). Dalam Bhuta-yajna
ini tercakup pula pengertian berkorban untuk memelihara alam, tumbuh-tumbuhan
dan binatang atau melestarikan lingkungan hidup.
Yajna dapat diselenggarakan setiap
hari yang disebut Nitya-yajna dan
dapat pula dilakukan secara berkala atau juga incidental yang disebut Naimitika-yajna. Contoh dari
Nitya-yajna itu adalah yajna kecil yang dilakukan setiap hari setelah selesai
memasak di dapur sebelum memulai makan, sedangkan contoh daripada Naimitika-yajna
adalah yajna-yajna yang tergolong dalam keelompok Panca-yajna.
2.1.1 Sarana Upacara
Sarana upacara adalah upakara. Di Bali upakara dipopulerkan
dengan istilah banten, sedangkan di
India, upakara disebut wedhya.
Kata
upakara terdiri dari dua kata yaitu
: upa artinya sekeliling atau segala
sesuatu yang berhubungan dengan, dan kara
artinya tangan. Upakara artinya
segala sesuatu yang dibuat oleh tangan atau sesuatu sarana persembahan yang
berasal dari hasil jerih payah bekerja.
Banten artinya wali. Maka dari itu upakara Dewa-yajna sering juga disebut pujawali. Kata wali mengandung tiga pengertian yaitu: wali berarti wakil, wali
berarti kembali, dan wali berarti
bali (Bali). Wali yang berarti wakil mengandung pengertian simbolis filosofis ,
bahwa banten itu merupakan wakil daripada isi alam semesta yang diciptakan oleh
Hyang Widhi. Wali yang berarti kembali , mengandung makna, bahwa segala yang
ada atau isi alam semesta yang diciptakan oleh Hyang Widhi, dipersembahkan
kembali oleh manusia kepada Hyang Widhi sebagai pernyataan rasa terimakasih
kepada Beliau. Seandainya Hyang Widhi tidak menciptakan alam semesta beserta
segala isinya ini, maka adakah suatu realitas yang dijumpai manusia..? Wali
yang berarti bali (Bali ) adalah sesuai dengan hukum perubahan bunyi p=b=w.
Banten
banyak jenisnya dan banyak pula bentuknya serta bermacam-macam bahannya.
Meskipun bahan banten terdiri dari bermacam-macam , namun pada prinsipnya bahan
banten itu terdiri dari tiga unsure yaitu :
1)
Mataya,
adalah bahan banten yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti : daun, bunga,
buah dan sebagainya.
2)
Maharya,
adalah bahan banten yang berasal dari binatang-binatang tertentu seperti : babi,
kambing, kerbau, sapi dan sebagainya.
3)
Mantiga,
adalah bahan banten yang berasal dari binatang yang lahir dari telur dan juga
telur itu sendiri, seperti : ayam, itik,
angsa, telur ayam, telur-itik , telur angsa dan sebagainya.
Didalam upacara, banten dilengkapi dengan air dan
api (dupa )
Didalam upacara dan upakara agama Hindu, sifat luwes
dan elastis itu selain berlandaskan desa,
kala, dan patra, namun juga dapat dilaksanakan menurut nistha, madhaya, uttama. Nistha
berarti yang prinsip didalam upacara dan upakara itu yang tidak boleh tidak
harus ada. Madhaya adalah
pengembangan dari yang prinsip itu sehingga menjadi lebih besar daripada nistha. Uttama pengembangan dan penambahan dari Madhya sehingga keadaannya menjadi lebih besar lagi daripada madhaya.
Ada tiga hal yang harus seimbang di
dalam melakukan upacara atau yajna yaitu : upacara, upakara, dan mantra atau stawa yang digunakan oleh
Sulinggih didalam memimpin upacara itu.
Apabila ketiganya ketiganya ini ini tidak seimbang, maka akan terjadilah
ketimpangan dalam pelaksanaan upacara agama. Selain itu patut terciptakan
kemanunggalan trimanggala-ning yajna
yaitu sang yajamana( orang yang
beryajna ), tukang banten dan
sulinggih yang muput upacara itu.
Seni
budaya merupakan penunjang sarana upacara. Dengan adanya seni-budaya menunjang
upacara dan upakara, maka itulah banten
di Bali semarak dan unik yang meriahkan pelaksanaan agama.
2.2
HAKEKAT UPACARA POTONGGIGI
Di dalam pustaka ronyal Dharma Kahuripan,
Ekapratama, dan rontal Puja Kalapati, upacara potonggiggi disebut atatah. Sampai kini ada tiga istilah
potonggigi yaitu : metatah, mepandes,
dan mesangih. Istilah metatah sebagaimana disebutkan dalam
pustaka rontal tersebut tadi, berasal dari kata tatah yang berarti pahat.
Mengenai istilah mesangih, kata
mesangih adalah bahasa bali, sedangkan bahasa Bali halusnya adalah mepandes. Maka dari itulah ada tiga
istilah mengenai upacara upacara potong gigi di Bali.
Upacara potong gigi merupakan salah
satu bagian dari upacara Manusa-yajna yang patut dilaksanakan oleh setiap umat
hindu. Upacara ini mengandung pengertian yang dalam bagi kehidupan umat hindu
yaitu :
1) Pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang
telah dapat mengendalikan diri dari godaan pengaruh Sadripu.
2) Memenuhi kewajiban orang tuanya terhadap anaknya
untuk menemukan hakekat manusia yang sejati.
3) Untuk dapat bertemu kembali ke;lak di Sorga antara
anak dengan orang tuanya setelah sama-sama meninggal dunia.
Selain
itu rontal Atmaprasangsa menyebutkan, bahwa apabila tidak melakukan upacara
potong gigi, maka rihnya akan mendapat hukuman dari Bhatara Yamadhipati di alam
neraka ( Kawah Candragomuka) yaitu menggigit pangkal bambu- petung .
Terlaksananya upacara ini merupakan kewajiban orang tua terhadap anaknya untuk
menjadikan anaknya manusia yang sejati yang disebut dharmaning rama-rena ring putra. Guna membalas jasa orang tuanya
maka anaknya berkewajiban melaksanakan upacara Pitra-Yajna kepada orang tuanya
serta leluhurnya sesuai dengan ketentuan dharmaning
putra ring rama-rena serta bersujud bakti terhadap orang tuanya sesuai
dengan ajaran putra-sasana. Anak yang demikian itulah disebut suputra artinya anak yang baik seperti
yang dibentangkan di dalam kekawin
Nitisastra.
2.2.1 Landasan
Adapun beberapa pustaka rontal yang
memuat tentang atau ada hubungannya dengan upacara potong gigi antar lain
adalah :
1)
Dharma Kahuripan,
Ada pendapat bahwa rontal ini ditulis oleh Empu Kuturan pada permulaan abad 11.
Didalam rontal ini dibentangkan mengenai upacara potong gigi yang disebut
atatah.
2)
Ekapratama,
Dikalangan masyarakat luas ada anggapan, bahwa rontal ini ditulis oleh Dang
Hyang Dwijwndra menjelang beliau moksah di Uluwatu akhir abad 16. Didalam
rontal ini disebutkan mengenai upacara
potong gigi yang juga disebut atatah.
3)
Puja Kalapati,
rontal ini ditulis sesudah Dang Hyang Dwijwndra, barangkali oleh keturunan
beliau. Di dalam rontal Puja Kalapati inilah dibentangkan asal mula orang
melaksanakan upacara potonggigi sebagai petunjuk dari Dewa Siwa kepada manusia
agar menemukan hakekat manusia sejati.
4)
Puja Kalib,
Rontal ini memuat tentang puja dan sthawa serta mantra yang digunakan oleh
pedanda dalam memimpin upacara potong gigi.
5)
Atmaprasangsa,
Disinilah disebutkan, apabila orang tidak melakukan upacara potong gigi, maka
rohnya diberi hukuman di alam neraka yaitu menggigit pangkal bamboo petung
6)
Janmaphalawerti,
Rontal ini membentangkan mengenai upacara dalam melaksanakan upacara potong
gigi, disebutkan pula mengenai ketentuan upacaranya untuk tingkat nistha,
madhya dan uttama.
7)
Tattwa Japakala,
Rontal ini menceritakan tentang Bhatara Guru ( Siwa ) memotong taring Bhatara
Kala sarana Bhatara Guru melebur sifat-sifat kala pada diri Bhatara Kala dan
dengan demikian Bhatara Kala tekah menemukan Hakekeat dirinya yang sejati dan
mengetahui ibu bapanya.
2.2.2 Tujuan
Tujuan daripada upacara potong gigi
yang dilakukan oleh umat Hindu dalam rontal Puja Kalapati dan juga pustaka rontal Atmaprasangsa, maka upacara potong gigi mencakup empat aspek tujuan
yaitu
:
1) Menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta,
pisaca, dan raksasa dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sadripu,
sehingga dapat menemukan hakekat manusia yang sejati.
2) Untuk dapat bertemu kembali di Sorga dengan arwah
Bapak dan Ibu yang telah berwujud suci.
3) Untuk menghindari hukuman di alam neraka nanti yang
dijatuhkan oleh Bhatara Yamadhipati berupa menggigit pangkal bambu petung.
4) untuk memenuhi kewajiban orang tuanya kepada anaknya
guna menemukan hakekat manusia sejati.
2.3 TATA UPACARA POTONGGIGI
Menurut rontal Dharma Kahuripan, upacara potong gigi
dilaksanakan sesudah melakukan pujakalip.
Upacara pujakalip adalah upacara
yang dilakukan bagi mereka yang baru meningkat dewasa baik bagi wanita maupun
bagi peria.
Dalam kenyataan di kalangan umat Hindu ada juga
melakukan upacara potong gigi bersamaan dalam atau dalam rangkaian upacara
wiwaha. Hal itu dilakukan apabila ketika meningkat dewasanya belum sempat
dilanjutkan dengan upacara potong gigi dan mereka cepat-cepat saja melakukan
perkawinan. Faktor lain yang mendorong hal yang demikian adalah efisiensi
pembiayaan, sehingga dua tingkatan upacara Manusa-yajna dirangkaikan menjadi
satu. upacara potong gigi dapat pula dilakukan dalam rangkaian upacara Pitra-
yajna yang disebut upacara mamukur.
Apabila semasih hidupnya belum sempat melaksanakan
upacara potong gigi, maka upacara ini dapat pula dilakukan secara simbolik pada
waktu matinya dengan suatu ketentuan khusus. Sebagian besar umat Hindu di Bali
melakukan upacara potong gigi bagi mereka yang telah meninggal yang semasih
hidupnya belum melakukannya, karena didasarkan atas tiga faktor yaitu :
1. Orang tuanya masih merasa berhutang kewajiban
terhadap anaknya yang belum sempat dibayarnya semasih anaknya hidup.
2. Mengharapkan agar roh anaknya dapat bertemu kembali
dengan roh orang tuanya di Sorga di kemudian hari.
3. Menghindari roh mereka yang meninggal itu mendapat
hukuman menggigit pangkal bamboo petung di alam neraka nanti yang diberikan ole
Bhatara Yamadhipati.
2.3.1 Tahapan Upacara
Berdasarkan ketentuan dalam pustaka
rontal Dharma Kahuripan dan pustaka rontal Puja Kalapati, bahwa tahapan upacara
potong gigi adalah sebagai berikut :
1) Magumipadangan. Upacara ini juga disebut mesakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.
2) Ngekeb. Upacara ini dilakukan di meten atau di gedong.
3) Mabyakala. Ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
4) Ke merajan atau tempat suci di dalam rumah.
Urutan-urutan upacara di merajan adalah :
a)
Mohon panugrahan
kepada Bhatara Hyang Guru.
b)
Menyembah ibu
dan bapak.
c)
Ngayap caru
ayam putih.
d)
Mohon tirtha(air suci ) kepada Bhatara Hyang
Guru.
e)
Ngajarah gigi
( menulis gigi dengan wijaksara )
f)
Dipahat
taringnya tigakali secara simbolik
5) Menuju ke tempat
potong gigi. Disini urutan-urutan
upacaranya adalah :
a)
Sembahyang
kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Semura dengan Bhatari Ratih.
b)
Mohon tirtha kepada Bhatara Semara dan
Bhatari Ratih.
c)
Ngayap banten pengawak ( bale gading )
d)
Metatah
atau memotong/ mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang
atas.
e)
Turun dari
tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkep.
6) Kembali ke meten/
gedong tempat ngekeb. Bila ingin
berganti pakaian, sekarang bisa dilakukan.
7) Mejaya-jaya di merajan. Disini urutan-urutan upacaranya adalah
:
a)
Mabyakala
b)
Sembahyang
kepada : Bhatara Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya (Bhatara yang lainnya)
c)
Menuju ke
hadapan Sang Muput Upacara, disini dilakukan meeteh- eteh pebersihan :
ÿ
Maprayascita
ÿ
Pangrabodan
ÿ
Ngayap
pungun-pungun dan pajajiwan
ÿ
Matirtha pengelukatan,
pabersihan dan kakuluh
ÿ
Majaya-jaya
ÿ
Ngayap banten
oton
ÿ
Ngayap banten
pawinten dibunga
ÿ
Mapadamel
d)
Kembali ke meten/ gedong tempat ngekep.
8) Mapinton ke Pura Kahyangan Tiga, ke Pura kawitan
dank e Pura lainnya yang menjadi pujaannya.
Catatan:
Berata
untuk Sang Mepandes :
ü Selama tiga hari dari sejak potong gigi tidak boleh
makan daging babi, tidak boleh memakan makanan yang panas dank eras.
ü Banten Caru ayam putih di merajan untuk Sang Catur Sanak.
ü Banten Paningkeb untuk Ibu Pertiwi dan juga untuk Sang Catur Sanak.
ü Banten dibawah tempat tidur dibalai pengekeban untuk Sang
Butha Ari-ari.
2.4 SIMBOLISASI DAN MAKNA
Agama Hindu mengakui pentingnya
symbol-simbol dalam usaha manusia menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi dan
symbol-simbol itu sendiri penting pula artinya bagi ajaran psikosmos. Ajaran psikosmos adalah ajaran yang dijelaskan
berdasarkan symbol-simbol alam kejiwaan dan alam dunia fana ini serta
hubungannya dengan alam gaib.
Hyang Widhi adalah Tuhan Yang Maha
Esa. Beliau tidak mempunyai wujud tertentu dan Beliau ada dimana-mana, meresapi
dan melingkupi alam semesta ini yang disebut dengan istilah wyapi-wyapaka. Penggambaran Hyang Widhi secara emperis atau
alamiah adalah untuk kepentingan manusia dalam hubungan pemujaan-Nya, sehingga
menyebabkan timbulnya penggambaran Hyang Widhi sebagai Mahapurusa seperti yang
terdapat didalam Wedha.
Disamping personifikasi Hyang Widhi, juga
digambarkan secara simbolis dimana simbolisasi Hyang Widhi dapat bermacam-macam
pula bentuknya menurut tanggapan rohani manusia dan penggambaran seperti itu
merupakan sumber dari inspirasi dari para seniman yang ingin hendak menggambarkan
Hyang Widhi dalam seni dan imajinasi manusia.
Dengan demikian maka banyaklah symbol-simbol yang
dijumpai di dalam agama Hindu. Namun demikian symbol-simbol itu tidak lebih
artinya daripada penggambaran sifat-sifat Hyang Widhi yang dituangkan kedalam seni,
baik seni rupa, seni sastra maupun seni bahasa.
2.4.1 Simbolisasi dalam
bagian-bagian banten
Bentuk-bentuk banten adalah perwujudan daripada simbolik-simbolik tertentu yang
dikaitkan dengan seni dan tata warna. Alas banten
adalah berbentuk segitiga, segi empat dan bundar. Alas banten berbentuk
segitiga di Bali disebbut tangkih adalah simbolik tri kona yaitu : utpati, sthiti, dan pralina yang
melambangka : lahir-hidup-mati. Alas banten
berbentuk segi empat yang di Bali disebut aled
dan ada juga yang disebut ceper
adalah simbolik daripada catur marga
yaitu : bhakti-marga, karma- marga,
jnana-marga dan yoga-marga. Catur
Marga itu adalah empat jalan untuk mencapai kesempurnaan dalam upaya
menghubungkan diri dengan Hyang Widhi. Alas banten berbentuk bundar yang di Bali disebut tamasadalah lambing
windhu atau kosmos.
Didalam upacara agama digunakan
bermacam-macam warna, baik yang dipakai dalam jajan banten, maupun pada
hiasan-hiasannya. Warna-warni itu juga mengandung arti simbolik yaitu:
·
Putih lambang Dewa Iswara yang menjaga penjuru di dunia timur.
·
Merah lambang Dewa Brahma yang menjaga penjuru di
dunia selatan.
·
Kuning lambang Dewa Mahadewa yang menjaga penjuru di
dunia barat.
·
Hitam lambang Dewa Wisnu yang menjaga penjuru di dunia utara.
·
Berumbun adalah lambang Dewa Siwa yang menjaga
penjuru dunia tengah.
Bentuk-bentuk
jajan banten dan jejahitan tertentu ada yang mengandung perlambangan atribut
atau laksana daripada Dewa Nawadhipakala seperti : wajra, dupa, dandha,
moksala, pasa, angkusa, cakra, trisula dan padma. Penggunaan rarajahan atau
lukisan magis dan huruf suci wijaksana seperti Omkara dan sebagainya, juga
terdapat dalam banten tertentu. Rarajahan dan Wijaksara itu adalah
lambing-lambang yang mengandung arti gaib.
2.4.2 Kasuksman atau filosofi
Agama Hindu adalah agama yang
filosofis. Didalam konsep Hindu, Wedhalah yang menjadi objek renungan filsafat.
Dengan demikian maka agama dan filsafat menyatu didalam konsep Hindu.
Apabila dikaji secara saksama, maka akan dijumpai
bahwa Wedha berisi dua hal penting yaitu :
Jnanakandha
dan Karmakandha. Dari Jnanakandha munculah Upanisad yang merupakan sari-sari
daripada Wedha. Dari Upanisad berkembang menjadi Tattwa dan dari Tattwa
berkembang menjadi Tutur-tutur Adhyatmika yang banyak terdapat di Bali. Dari
Karmakandha muncullah Dharmasastra dan Yajna. Dharmasastra membentangkan
tentang Tatasusila dan Hukum Agama Hindu. Dari Karmakandha ini juga berkembang
menjadi pustaka-pustaka yang membentangkan Yajna atau upacara-upacara agama
Hindu seperti : Catur Wedhya, Sundharigama, Purwayamatattwa, Putru Saji, Empu
Lutuk, Indik Ligya, Dharmakahuripan, Ekapratama dan lain-lainnya.
Didalam upacara potong gigi juga
terdapat kasuksman. Berdasarkan keterangan didalam pustaka Puja Kalapati, bahwa
kasuksman upacara potong gigi adalah
untuk menemukan hakekat manusia yang sejati. Mereka yang telah menemukan hakekat
manusia sejati adalah mereka yang mengetahui falsafah hidup ini. Ada tiga hal
penting yang patut direnungkan yaitu:
1.
Apa arti hidup
ini ?
2.
Untuk apa hidup
ini?
3.
Apa tujuan hidup
ini ?
Bagi agamawan, arti daripada hidup ini adalah
manusia mendapat kesempatan berbuat baik yang disebut subhakarma untuk menebus karmawasana
yaitu sisa pahala perbuatan negative atau asubhakarma yang tidak sempat dinikmati semasih hidupnya dahulu.
Mengenai jawaban pertanyaan “ untuk apa hidup ini? “ adalah analog
dengan penjelasan tadi. Hidup ini harus digunakan untuk berbuat baik. oleh
karena itu pergunakanlah hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk menebus karmawasana negative yang masih
melekati diri, sehingga bisa bebas daripada samsara yang diakibatkan oleh pengaruh duniawi
Mengenai jawaban atas pertanyaan “apa tujuan hidup ini?“. Masalah ini
sesungguhnya masih teka-teki dalam kehidupan ini. hidup ini adalah menderita.
Selama atma berada dalam lingkaran punarbhawa,
selama itu atma mengalami penderitaan. Deretan lahir hidup mati yang berulang-ulang
itu disebut samsara. Tujuan daripada
hidup ini adalah untuk tidak hidup lagi dalam arti terlepasnya atma dari
lingkaran punarbhawa yang penuh penderitaan. Atma yang telah terlepas dari
lingkaran punarbhawa disebut moksah. Moksah
artinya lenyapnya penderitaan. Di dalam pustaka kamoksan, moksah itu
disebut mulih ing sangkan paran yang artinya pulang ke asalnya.
Apa
yang disebut benar dan apa yang disebut salah ? Pertanyaan ini sudah sejak
lama menjadi pergunjingan para ahli pikir. Kebenaran adalah hakekat daripada
pengetahuan. pengetahuan yang dikenal manusia ada empat macam yaitu :
o Kebenaran indria adalah kebenaran yang diperoleh dari pengalaman
panca-indria melalui proses pemikiran yang langsung menjadi pengetahuan.
o Kebenaran Ilmu adalah kebenaran yang diperoleh dari hasil berpikir
sistematik dan radikal disertai penelitian dan eksperimen.
o Kebenaran
filsafat adalah kebenaran yang
diperoleh dari hasil pemikiran secara sistematik, radikal, dan universal .
o Kebenaran Agama adalah kebenaran yang diperoleh dari hasil
pengetahuan yang diwahyukan oleh Tuhan (Hyang Widhi ). Didalam pengetahuan
Tuhan terdat ulasan, keterangan, tafsiran dan rincian yang berasal dari
pengetahuan manusia .
Diantara keempat kebenaran itu, maka kebenaran agama
adalah kebenaran yang bersifat hakiki, karena bersumber pada Tuhan dan bukan
pada manusia. Maka dari itu apa yang disebut benar adalah sesuatu yang
dibenarkan oleh agama dan apa yang disebut salah adalah sesuatu yang disalahkan
oleh agama.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Ber-yajna adalah melakukan hal yang benar karena upacara
diwajibkan di dalam Agama Hindu. Maka dari itu melakukan upacara potong gigi
adalah suatu perbuatan benar yang patut dilakukan menurut ajaran agama Hindu,
karena mengandung kasuksmaan mengatasi Sadripu, Rajah, danTamah dalam upaya
mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan guna menemukan hakekat manusia
yang sejati. Didalam pustaka rontal Puja Kalapati ditegaskan, bahwa hanya
manusia yang sejati akan dapat bertemu kembali dengan Bapak dan Ibunya ( baca :
Dewa Siwa dan Dewi Uma ) kelak di sorga.
3.2 SARAN
Upacara potong gigi bila dilaksanakan sesuai dengan
maknanya sesungguhnya sangat sederhana.Dalam ajaran Hindu, khususnya dalam
pelaksanaan upacara Yadnya dikenal adanya : Kanista, Madya dan Utama yang
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kanista berarti yang inti
atau yang pokok dan bukan berarti hina, sebab dalam Yadnya landasannya adalah
ketulusan dan kesucian hati nurani. Bila dilandasi ketulusan hati walaupun
kecil upacara yang kita persembahkan niscaya besar pahala yang akan diterima.
Sebaliknya yang besar bila tidak dilandasi hati yang suci akan sia-sia belaka.


